Betulkah Prabowo Mengkhianati Umat Islam?

by -179 views

Presiden terpilih Joko Widodo (Jokowi) akhirnya bertemu dengan Prabowo Subianto pasca-tahapan Pilpres 2019 berakhir. Kedua tokoh tersebut bertemu di Stasiun MRT Lebak Bulus, Jakarta Selatan hingga melanjutkan makan siang bersama di sebuah restoran di Senayan.‎

Merespons pertemuan tersebut, Ketua Umum (Ketum) Persaudaraan Alumni (PA) 212, Slamet Ma’arif angkat bicara. Menurut Slamet, sudah menjadi hak Prabowo untuk bertemu dengan siapapun. Namun dia menyayangkan sikap Prabowo yang tidak berkoordinasi dengan ormas pendukungnya.

“Siapapun tidak bisa melarang orang untuk bertemu dengan siapapun, kami hanya menyayangkan Pak Prabowo kurang peka dengan perasaan umat, seharusnya pertemuan dengan Jokowi ditunda dulu, tunggu waktu yang tepat.‎ Tapi kami yakin ada pertimbangan tersendiri PS (Prabowo Subianto),” kata Slamet kepada Okezone, Sabtu (13/7/2019).

Lebih lanjut, kata Slamet, ‎para ormas pendukung Prabowo di Pilpres 2019, yakni Front Pembela Islam (FPI), Gerakan Nasional Pengawal Fatwa (GNPF) hingga PA 212 akan terus mengupayakan untuk memulangkan Habib Rizieq Shihab (HRS).

“Kami FPI, GNPF dan PA 212 akan terus berupaya dengan cara kami sendiri agar pencekalan HRS bisa dicabut dan HRS bisa pulang ke Tanah Air‎,” ujarnya.

Dikonfirmasi terpisah, Juru Bicara PA 212, Novel Bamukmin menegaskan bahwa pihaknya tidak pernah memberikan restu kepada Prabowo untuk bertemu dengan Jokowi. Novel menduga pertemuan itu didorong oleh kepentingan segelintir orang dekat Prabowo.

“Setahu saya kami dari PA 212 tidak memberikan dukungan atau rekomendasi untuk Prabowo dan Jokowi bertemu karena kami masih menjaga amanat umat,” ujarnya.

“Diduga pertemuan itu didorong oleh orang-orang di sekitar Prabowo yang berkhianat kepada umat Islam khususnya yang memilih 02. Namun atas itu kami akan menunggu arahan para ulama , tokoh dan aktivis untuk secara resmi mereka menyikapi masalah ini,” kata Novel.